<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="0.92">
<channel>
	<title>The Journey of Hendra</title>
	<link>http://hendrasyahputra.com</link>
	<description>Perjalanan Memaknai Kehidupan, Ketika Bertemu Banyak Orang, Melihat Banyak Hal dan Menuliskannya Dengan Hati.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Sep 2011 09:54:43 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	<!-- generator="WordPress/3.1.3" -->

	<item>
		<title>Epilog &#8211; Entikong- Dalam &#8220;Batas&#8221;</title>
		<description><![CDATA[SEJATINYA negara adalah organisasi yang amat kokoh dan kuat. Di dalamnya ada banyak unsur, seperti penduduk, wilayah, angkatan bersenjata, sistem birokrasi, dan sebagainya. Semua ini tentu tak begitu saja terjadi. Ini merupakan hasil perkembangan berabad-abad, sejak abad ke-16 di Eropa Barat, dan ditiru di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun saat ini tidak ada entitas politik [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2011/09/23/epilog-entikong-dalam-batas/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Menulislah, Berbagi dan Jangan Berhenti</title>
		<description><![CDATA[&#8220;Dengar, itu bukan burung biasa, suaranya sangat berbeda”, Kata Tim Folger, kepada saya, minggu lalu itu di sebuah perkampungan di Lhoknga, Aceh Besar. Tim adalah salah seorang penulis di National Geographic Amerika, yang sedang berkunjung ke Aceh. Kunjungan Tim ke Aceh, adalah yang pertama kali. Namun ia kelihatan punya persiapan penuh. Semua tentang Aceh ia [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2011/09/23/menulislah-berbagi-dan-jangan-berhenti-2/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Selalau Ada Jalan Jika Kita Mau</title>
		<description><![CDATA[DREAM IS COME TRUE. Mimpi yang menjadi kenyataan. Peribahasa sepertinya tepat menggambarkan perasaan saya bertemu dengan sosok penulis, yang tulisannya sudah saya baca sejak duduk di kelas 2 SMU dulu. Penulis itu, DR. Ninok Leksono. Mengenal Pak Ninok nyaris saya dapatkan hanya melalui tulisannya di Koran Kompas. Tepatnya, saya membaca pemikiran cerdas dan ide–ide cemerlang [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2011/09/22/selalau-ada-jalan-jika-kita-mau/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Masih Ada Cerita Dari Samalanga</title>
		<description><![CDATA[HARI masih terasa sangat muda. Kamis, 16 Desember 2010. Saya dan teman teman  tiba di sebuah kecamatan yang bernama Samalanga. Perjalanan menuju Samalanga kami tempuh satu jam dari Ibukota Kabupaten Bieruen. Kami memutuskan untuk ke Samalanga, karena 70 km dari kota kecamatanya, kami ada sebuah kecamatan yang paling berat terkena dampak gempa dan gelombang tsunami, [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2011/03/18/masih-ada-cerita-dari-samalanga/</link>
			</item>
	<item>
		<title>10,9  Detik yang Sangat Berarti</title>
		<description><![CDATA[(Belajar Dari Gempa dan Tsunami Jepang) ALLAHUAKBAR. Ya Rahman, Ya Rahim. Kalimat tersebut tak berhenti saya dengar dari mulut teman-teman sekantor yang menyaksikan acara yang ada di chanel TV, di kantor kami. Seakan terperangah dan merasakan apa yang dirasakan. Saya pun bergerak menambah jumlah penonton di ruang tamu berukuran 6 x 5 meter tersebut. Subhanallah, [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2011/03/18/109-detik-yang-sangat-berarti/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Dari Aceh Untuk Dunia</title>
		<description><![CDATA[Universitas Syiah Kuala berhasil membangun pusat riset mitigasi tsunami dan bencana. Dirintis dan dipimpin oleh dua doktor yang terpacu oleh semangat para syuhada. Menghimpun para periset lokal dan mancanegara. *** Dari lantai III gedung Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), langit Ulee Lheue, Aceh, sore itu terlihat cerah keemasan. Tabir cakrawala dihiasi sepancaran pelangi. [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2010/07/29/dari-aceh-untuk-dunia/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Regulasi Penyiaran Selera Aceh</title>
		<description><![CDATA[Gelisah pada mutu tayangan televisi nasional, KPID Aceh menawarkan qanun penyiaran lokal. Dikritik mengabaikan kemajemukan dan mengumbar sensor berlebihan. Kenapa DPR Aceh masih diam? *** Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Aceh, awal Maret lalu, merilis Rancangan Qanun (Raqan) tentang Program dan Isi Siaran Lembaga Penyiaran di Aceh. Beberapa muatan khas yang masuk ruang lingkup pengaturan [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2010/07/01/regulasi-penyiaran-selera-aceh/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Pelajaran dari seorang, Susan Boyle – Winner Britain&#8217;s Got Tallent -</title>
		<description><![CDATA[BULAN April 2010, memasuki minggu ketiga. Udara di Banda Aceh tak seperti hari-hari sebelumnya yang panas dan sangat “menggigit “ kulit. Warna kulit saya yang hitam, semakin terlihat hitam (meski masalah kulit tak sepenuhnya menyalahkan matahari) . Minggu ketiga bulan april, adalah hari-hari yang sangat padat. Saya beserta rekan-rekan kerja di tim Training Knowledge Management, [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2010/04/26/pelajaran-dari-seorang-susan-boyle-%e2%80%93-winner-britains-got-tallent/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Dari Mantan Pejuang GAM Menjadi Aktivis Lingkungan</title>
		<description><![CDATA[Beberapa mantan pejuang GAM direkrut menjadi penjaga hutan. Ulu Masen diakui dunia sebagai hutan penyerap karbon. Bisa menghasilkan US$ 26 juta dalam konteks perdagangan karbon. *** Sebuah papan besar dan panjang berisi ajakan menjaga hutan terpampang jelas. &#8220;Rakyat makmue beusare&#8221;, begitu tulisan di papan tersebut. Hutan kita jaga, maka rakyat makmur bersama, demikian kira-kira terjemahan [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2010/04/06/dari-separatis-menjadi-aktivis-lingkungan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Dari Pamulang Sampai Aceh</title>
		<description><![CDATA[Pedalaman Aceh dijadikan sebagai kamp pelatihan kelompok bersenjata, diduga teroris. Gerombolan teroris Aceh ini ditengarai terkait dengan jaringan teroris Dulmatin yang digulung polisi di Pamulang, selatan Jakarta. Penyergapan di Pamulang menewaskan tiga lelaki, satu di antaranya disebut-sebut sebagai Dulmatin, gembong teroris internasional buronan Interpol dan CIA. *** Kawasan yang menggemparkan itu letaknya sekitar 15 kilometer [...]]]></description>
		<link>http://hendrasyahputra.com/2010/03/23/dari-pamulang-sampai-aceh/</link>
			</item>
</channel>
</rss>

