10,9 Detik yang Sangat Berarti
(Belajar Dari Gempa dan Tsunami Jepang)
ALLAHUAKBAR. Ya Rahman, Ya Rahim. Kalimat tersebut tak berhenti saya dengar dari mulut teman-teman sekantor yang menyaksikan acara yang ada di chanel TV, di kantor kami. Seakan terperangah dan merasakan apa yang dirasakan. Saya pun bergerak menambah jumlah penonton di ruang tamu berukuran 6 x 5 meter tersebut. Subhanallah, Jepang di rundung pilu. Gempa berkekuatan 8,9 sekala Richter disertai tsunami, kembali menghantam negeri yang dikenal dengan “bunga sakura”- tersebut.
Hampir semua orang yang membaca surat kabar dan menonton televisi, sudah barang tentu tahu, gempa bumi berkekuatan 8,9 sekala Richter disertai tsunami telah mengguncang Jepang pada tanggal 11 Maret 2011. Pusat gempa tepat berada 130 km di lepas pantai timur kota Sendai atau 400 km di timur laut kota Tokyo pada kedalaman 24,4 km. Gempa bumi ini menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat setinggi 10 m di sekitar kota Sendai. Dari peristiwa ini kita bisa belajar banyak bagaimana pemerintah Jepang beserta rakyatnya menangani fase responsif di dalam manajemen bencana gempabumi, sesaat saja pasca “cobaan” hebat meluluhlantahkan negeri samurai tersebut.
Berbagai media dan publikasi, seperti “air bah” yang terus datang dengan berbagai versi ke ruang publik termasuk kedalam kehidupan kita sehari-hari. Percakapan, obrolan, tangis, cerita dan rasa simpati hampir tak terbendung mengalir bak air bah. Sangat memilukan. Namun, sudahkah kita mengambil pelajaran untuk berbenah?.
Dari beberapa bahan bacaan dan diskusi di milis yang saya ikuiti, saya mencoba merekam dan “menghidupkan” kembali lesson learnt dari seputar gempa Jepang, dan apa yang seharusnya kita ambil dari hal tersebut.
Bersumber informasi yang saya baca dari Japan Meteorological Agency, belum lama ini, dikatakan, mengatakan gelombang P (primer) yang datang pertama di rekaman seismometer sesungguhnya dapat dipergunakan sebagai peringatan dini meskipun hanya beberapa detik sebelum tempat seismometer tersebut diguncang gempabumi. Gelombang tersebut kemudian rusak saat gempabumi akibat gelombang S (sekunder) yang datang belakangan setelah gelombang P.
Tak berhenti sampai disitu. Sayapun dilanda penasaran. Saya memutuskan chating dan menelpon beberapa pakar dalam masalah pempa. Dengan bantuan Om skype, informasipun bergulir bak bertatap muka.
Menurut chating dengan mereka, saya saya mendapat informasi tambahan. Menurut keduanya, dari jarak 130 km dari pusat gempabumi, kota Sendai akan menerima sinyal gelombang P yang berkecepatan kurang lebih 6 km/detik setelah 21,6 detik dan gelombang S yang berkecepatan 4 km/detik yang merusak akan tiba di Sendai setelah 32,5 detik. Jadi sesungguhnya masih ada selisih 10,9 detik untuk mengingatkan masyarakat bahwa akan datang gempabumi dahsyat, sementara di Tokyo yang berjarak 400 km dari pusat gempa masih memiliki selisih kedatangan gelombang P dan S sebesar 33,4 detik. “Dengan demikian penduduk Sendai sebenarnya masih punya beberapa menit untuk menghindar dari gelombang tsunami yang akan datang menyapu kawasan pantai,” katanya.
Ia pun menjelaskan data bahwa di kota Sendai sekitar duapuluh ribu rumah rusak dan diperkirakan duapuluh ribuan yang meninggal. Selain itu pemerintah menerjunkan limapuluh ribu pasukan beladiri (tentara) Jepang dan NHK langsung melakukan peliputan tsunami di wilayah yang diterjang tsunami dengan helikopter. “Sebab di Jepang organisasi hirarkis terbaik adalah organisasi tentara,” papar mereka.
Dari berbagai informasi dan tayangan televisi, mereka bilang masyarakat Jepang telah memiliki kesadaran dan kesiapsiagaan bencana gempa. Mengingat negara dalam wilayah rawan gempa, mereka telah mendapatkan itu semua melalui sosialisasi bencana gempabumi. “Mereka pada mencari tempat berlindung terdekat, di kolong meja ataupun dimana mereka merasa aman. Masyarakat terkesan sudah sangat terlatih dengan bencana gempa,” tambahnya.
Sudah tidak asing lagi, masyarakat Jepang memang dinilai memiliki budaya disiplin dan kejujuran yang tinggi. Hal itu tercermin saat mereka menghadapi bencana gempa. Tanpa disiplin yang tinggi masyarakat tidak akan tenang menghadapi gempabumi. Mereka tetap antri dengan tertib untuk memperoleh jatah bantuan pasca gempa utama terjadi. dan harga-harga di Tokyo masih stabil. Berbeda dengan pengalaman saat gempabumi di Aceh, 2004 dan Yogyakarta 2006, harga sekotak supermi pun bisa menjadi tiga kali lipat,” tutur slah satu rekan yang lainnya.
Bagaimana Dengan Reaktor Nuklir ?
Jam dikamar saya sudah menunjukan pukul 02.00 pagi. Tentu saja semua orang sudah larut dalam “mimpi indah” atau disibukkan dengan tugas dan berdo’a pada sang khalik. Setelah rangkaian aktivitas itu semua, saya memutuskan membaca kajian Pak Subagyo dari Japan Meteorological Agency.
Saya akhirnya berhasil mengorek sedikit informasi darinya. Ia mengatakan, demikian pula dengan penanganan reaktor nuklir di Fukushima, pemerintah Jepang langsung merespon dengan cepat menyatakan darurat nuklir. Pemerintah pun dengan segera mengevakuasi 200.000 rakyatnya dari radius 20 km dari reaktor nuklir. “Kita tentu dapat belajar bagaimana membangun reaktor nuklir, tidak saja membangun namun bagaimana bisa membekali para pengelola nuklir dengan disiplin tinggi,” jelasnya.
Darinya pula saya mendapatkan informasi tambahan, meski masih dalam penanganan para ahli, tingkat radiasi saat ini telah mencapai 160 kali tingkat radiasi normal. Bahkan empat hari setelah kerusakan reaktor nuklir Fukushima, masyarakat Tokyo yang berjarak 250an km telah mendapat himbau untuk tetap tinggal di dalam rumah karena dikhawatirkan akan terkena debu nuklir. “Lagi-lagi kita bisa belajar dari peristiwa ini. Kalaupun tetap pada keinginan membangun reaktor nuklir tentu kita dapat memilih tempat yang paling aman dari bencana terutama gempabumi. Dengan berbagai pertimbangan ekonomi kita memang diharapkan bisa memiliki reaktor nuklir, tetapi perlu dipertimbangan kemana limbah akan dibuang,” pungkasnya.
Saya pikir, kita memang sangat banyak dan harus banyak belajar dari Jepang. Bagaimana terus siap, terus terlatih dan terus waspada. Karena Jepang yang tergolong punya teknologi yang sangat tinggi saja, masih banyak korban yang berjatuhan akibat tsunami yang meluluhlantahkan negeri mereka. Allahuakbar. Hanya Allah yang maha mengetahui.
***
Sisa-sisa bulan purnama yang turun bersinar semalam, menambah indah suasana menjelang pagi di bumi “seuramo mekkah”. Sebelum berangkat tidur sejenak, saya melihat ke layar Laptop. Ada e-mail balasan dari seorang sahabat baik dari Jepang. Hajime Tanaka.
Dear Hendra,
I am now in Kobe. Everything here going as usual. I am just collecting information. I appreciate for your condolence. I and my families are all OK, but many sad news from damaged area. I am still looking what I can do.
Regards,
Hajime
***
Pagi datang seperti bintang gemintang. Terang. Do’a terbaik kami untuk Jepang .Semoga Allah selalu bersama kita. Tentu juga semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari ini semua. Allahuma Amdhi. Semoga
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.


The Journey of Hendra 



