Trudabur Muda Mengincar Rekor Dunia

Muda Balia bsatuerkecimpung dalam seni peugah haba sejak kelas IV sekolah dasar. Banyak yang menyetarakan kemampuannya berhikayat dengan seniman kondang Aceh, Adnan PMTOH (almarhum).

Semangat dan energi Muda Balia, sang trudabur muda dari Aceh Selatan, betul-betul menggebu. Setelah mengantongi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai trubadur atawa penutur hikayat Aceh yang beraksi 26 jam tanpa henti, Muda Balia tengah menyiapkan lompatan ke depan yang lebih seru: bertekad beraksi di pentas selama tujuh hari tujuh malam secara terus-menerus.

Kalau tak ada aral menghadang, Muda akan tampil mementaskan seni peugah haba atau seni bertutur ala Aceh itu selama sepekan di Tugu Monas atau di depan Istana Negara di Jakarta, Agustus mendatang. Acara pentas dalam rangka memperingati HUT ke-65 Kemerdekaan RI ini rencananya bakal mengundang pihak Guinness Book of World Records agar atraksi itu bisa masuk rekor dunia.

Muda sangat serius dengan tekadnya. Lelaki kelahiran Seunebok Alue Buloh, Bakongan, Aceh Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), ini mulai rajin berlatih fisik agar pada saat tampil kelak staminanya tidak rontok. Muda optimistis mampu melakoni rencananya itu. “Bukan bermaksud takabur, saya yakin mampu tampil tujuh hari tujuh malam,” katanya

Muda Balia adalah sosok seniman trudabur yang mulai berkibar di Aceh. Muda, yang berusia 29 tahun dan ayah dua anak, dengan rendah hati lebih senang menyebut dirinya seniman muda. Setidaknya, dari segi pengalaman, jam terbang, dan kemampuan, ia mengakui masih jauh lebih muda dibandingkan dengan “senior”-nya, seniman kenamaan Aceh, Adnan PMTOH (almarhum).

Nama Muda dengan cepat mencuat ketika ia sukses tampil mempertunjukkan seni peugah haba di Banda Aceh selama 26 jam nonstop, 26 Desember lalu. Selama lebih dari sehari semalam itu, Muda beraksi memukau tanpa lelah. Tampil berbusana khas Aceh, Muda menunjukkan totalitas ketika melakukannya. Tanpa cela, apalagi keliru, ia menuturkan syair-syair dalam pantun indah khas Aceh.

Tubuhnya meliuk-liuk lincah, tangannya bergerak penuh irama, mengikuti syair yang dilantunkannya. Dalam atraksi memperingati lima tahun tragedi tsunami yang meluluhlantakkan Aceh itu, Muda menuturkan semua fenomena yang ia saksikan sejak hari pertama bencana pada 26 Desember 2004 hingga 26 Desember 2009.

Pedang pelepah kelapa, tikar anyaman, bantal, dan seruling menjadi atribut yang menemaninya beraksi di atas kapal apung pembangkit listrik tenaga air milik PLN berbobot 4.500 GWT yang didatangkan dari Kalimantan Barat. Pada saat beraksi di hadapan pengunjung yang berjubel, Muda hanya tiga kali beristirahat sejenak untuk menunaikan salat atau makan. Total 15 menit.

Sang trubadur muda ini memang tampil luar biasa. Keindahan dan kekuatan vokalnya yang bulat dan lantang mampu menyihir para penonton. Tersaji dengan jelas pula kekuatan diksi pada bunyi yang bertaut antara suara, tarian, dan properti yang mendukung peugah haba dari Muda Balia. Seniman ini pun menambahkan kekuatan imaji. Tiap bait yang berlalu diberi mimik dan karakter, sehingga unsur teaternya tampak begitu kuat. Jadi, ada patron dramanya.

Atraksi yang dikoordinatori Teuku Afifuddin itu sungguh belum pernah disaksikan di Aceh selama ini. “Masa-masa konflik dulu tak gampang melakukan pementasan ini, apalagi mengundang orang ramai. Jangankan 26 jam, lima jam saja sulit,” tutur Juliansyah, seorang penonton yang merasa puas dan terhibur oleh penampilan Muda. Selama 26 jam itu pula, Juliansyah nyaris tak beranjak dari tempat duduknya.

Muda Balia sendiri ketika itu tak kuasa menahan haru. Matanya berkaca-kaca. Pada hari itu, perjalanan hidup berkesenian yang dijalani dengan segala suka-dukanya telah mengantarkannya ke suatu episode baru yang sangat membanggakan baginya. Namanya berkibar dan tercatat dalam Muri. Masyarakat Aceh memuji dan memujanya. “Saya tidak menyangka, seperti mimpi saja,” katanya

Muda Balia berkecimpung dalam seni peugah haba sejak duduk di kelas IV sekolah dasar pada 1994. Muda kecil memang agak terlambat sekolah, dan tersendat pula, sehingga ia hanya berhasil menamatkan sekolah dasar. Ketika kelas IV itu, Muda suka sekali menonton pertunjukan seni peugah haba. Ia kemudian belajar seni itu kepada Zulkfili, lalu hijrah ke Banda Aceh pada 1998.

Menurut Muda Balia, aliran hikayat yang digelutinya sama dengan Adnan PMTOH. Maklum, gurunya, Zulkifli, dan guru Adnan PMTOH sama-sama berguru pada seniman beken Aceh, Amat Lapee. Atas kesamaan inilah, banyak yang menilai Muda Balia sebagai personifikasi sosok Adnan PMTOH, terutama pada aspek pelantunan kisah dalam bait-bait syair secara otomatis. Muda Balia bisa mensyairkan hal apa saja dengan cepat, walau diakuinya belum sehebat Adnan PMTOH.

Kematangan Muda Balia dalam bertutur terlihat sekali ketika membawakan hikayat Peeh Bantai yang lebih akrab dengan peugah haba atau dangderia itu. Ia hanya mengandalkan ketahanan fisik dan daya ingat.

Ada yang luar biasa dalam kemampuan bertutur itu. Hikayat yang dituturkannya spontan bisa lahir dalam ingatannya dalam sekejap tanpa catatan apa pun. “Saya hanya butuh waktu sejenak, melihat sekeliling, mengamati bagaimana respons penonton, lalu mensyairkannya,” ujarnya.

Simaklah salah satu syair spontan yang diciptakan dan dituturkannya dalam penampilannya pada 26 Desember lalu itu. Syair ini intinya meminta bantuan Gubernur NAD, Irwandi Yusuf, untuk membantu mengusahakan agar atraksinya itu bisa dicatatkan di Muri.

Pakriban haba Cut Bang Irwandi/ Peukara MURI pakriban cara/ Nyoe pat adoe ka meusingklet gaki/ hana lon tukri meujak u Jakarta/ Tulong hai Cut Bang neuboh paduli/ Beuna keueh Muri keu Muda Balia. (Apa kabar Cut Bang Irwandi/ Bagaimana dengan persoalan Muri/ Adinda di sini sudah tergelincir kaki/ Tidak tahu bagaimana caranya ke Jakarta/ Tolonglah, Abang, supaya ada cara Muri untuk Muda Balia).

Dan di akhir atraksi itu, Irwandi dengan bangga memeluk Muda Balia. Ia dengan senang hati mengusahakan agar kehebatan Muda bisa dicatatkan di Muri. Pak Gubernur tanpa sungkan memberikan kesaksian tertulis, yang mengantarkan Muda Balia tercatat dalam Muri dengan nomor urut 4085.

Kini Muda Balia sedang bertekad mengincar rekor dunia, dengan mementaskan peugah haba selama tujuh hari tujuh malam, Agustus mendatang.

***

dimuat juga di Malajalah GATRA

g 18 / XVI 17 Mar 2010
Sosok

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Leave Comment

(required)

(required)