Happy Indonesia dan Happy Planet Index
Senangkah anda menjadi orang Indonesia??? Hmm, pertanyaan yang menggelitik dan pasrti tidak gampang di jawabnya. Begitu juga ketika semalam, salah seorang teman saya bercanda tentang asyik dan tidaknya menjadi orang Indonesia. So what??
Saya membaca sebuah tulisan seorang ekspatriat dari Belanda, dia menulis tentang kesukaannya tinggal di indonesia. semuanya dia ceritakan tentang keramahan yang dia temukan disini. (ramahkan kita?)
Lalu kalau pertanyaan itu ditujukan ke orang indonesia sendiri, jawabannya gimana? kalau saya punya jawaban apa ya? mengingat sama sekali saya belum pernah tinggal di negara orang.
jawabanya mungkin ringan, kumpul keluarga yang hangat dengan celotehan bahasa daerah, punya teman-teman dengan latar belakang etnis yg beda, tapi bisa bersatu dengan satu bahasa, ngomong pake bahasa indonesia, kalau ga ada bahasa pemersatu?? berapa banyak bahasa daerah yg saya harus pelajari untuk menyapa teman-teman saya
Kalau tidak, pasti kebayang, gimana susahnya harus belajar bahasa Padang, baru bisa masuk dan makan di warung Padang
Asyik Indonesia
Obrolan seorang teman padaku. “ Aduh, Ndra. Aku kangen bakso, soalnya di Belanda susah cari Bakso”, ungkapnya di chating kami minggu lalu.
Itukah bahagian dari cirri Indonesia juga? Bias jadi. Satu hal lagi ciri khas Indonesia yang sangat ketara, adalah bagaimana membuat peraturan dan kemudian melanggarnya. Ciri khasnya orang indonesia, sukanya bikin peraturan untuk dilanggar:-)
Tak Asyik Indonesia
Berita-berita kriminal ( termasuk dalamnya kerusuhan, terorisme dan juga kasus-kasus korupsi ) terus menerus ditayangkan oleh hampir semua stasiun televisi kita, termasuk stasiun-stasiun televisi baru pada pemancar nasional maupun daerah. Ini menunjukkan betapa tingginya rating yang diperoleh dari penayangan –penayangan berita kriminal. Rating yang tinggi juga membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat kita menyukai informasi tersebut. Informasi berita yang bernuansakan kekerasan, keculasan, keserakahan, kehinaan, pembunuhan dan darah. Bukti ini bukan berarti sebagian besar masyarakat kita memang menyukai kekerasan dan keserakahan. Namun sebaliknya, mereka tidak menginginkan kekerasan dan keculasan muncul dimana-mana. Meraka pada dasarnya punya harapan bahwa kekerasan dan kehinaan tidak terjadi pada diri, keluarga, lingkungan dan bangsanya. Penggalan diatas cukup membuat kita bergidik bulu kuduknya dan merasakan tak asyiknya negeri yang kita cintai ini (kalau ini terus terjadi)
Namun secara umum, peristiwa tersebut membawa pesan, adanya ketidaknyamanan di dalam kehidupan sebagian besar masyarakat kita. Ketidaknyamanan hidup yang mendorong mereka berusaha mengikuti berita-berita tersebut. Mencari informasi dengan berharap kepada pihak berwenang segera dapat mengikis habis kriminalitas dan keonaran itu. Yang dirasa telah mengepung ketenangan hidup mereka. Hidup menjadi was-was penuh dengan kewaspadaan dan kehati-hatian. Dan berusaha sebisa mungkin musibah itu tidak menimpa diri mereka. Hidup resah ‘di rumah sendiri’ seakan-akan dirasakan penuh dengan ancaman dan teror. Tak bisa dipungkiri pemabuk, pemalakan, pemerasan, teror kelas teri, suap, korupsi dan keonaran, hampir merata dipelosok negeri ini. Yang telah memunculkan ketidaknyaman-ketidaknyamanan hidup yang telah dirasakan sebagian besar masyarakat kita. Ketidaknyamanan yang dilahirkan oleh kekeringan budi pekerti oleh sekelompok kecil masyarakat, yang dibiarkan menguat eksistensinya (keberadaannya) oleh sebagian besar masyarakat kita. Sikap mengabaikan keberadaan mereka justru menambah semakin kuatnya ‘kekeringan hidup’ pada masyarakat kita.
Faktor Penyebab Kekeringan Hidup Masyarakat Bangsa.
Kemudian masalah mendasar apakah yang telah terjadi pada masyarakat kita ini; pertama, adalah : Telah terjadi banyak ketidaknyaman-ketidaknyamanan dalam kehidupan masyarakat. yang telah menimbulkan dampak tersendiri dalam masyarakat tersebut.Dampak dari ketidaknyamanan-ketidaknyamanan dalam masyarakat telah melahirkan budaya kekerasan, sikap pengecut, budaya keserakahan, korupsi, pungli-pungli, kerusuhan, terorisme, gaya hidup tak seimbang, pembohong, pemerasan, jiwa pencuri, perampokan, pembunuhan dan hampir semua masalah yang telah terjangkiti oleh masyarakat Indonesia, merupakan kekeringan hidup yang bermula dari keadaan tidak nyaman dalam kehidupan mereka.
Ketidaknyamanan paling besar pengaruhnya yang telah memberi andil terbangunnya kekeringan hidup dalam masyarakat kita adalah “minuman keras”. Minuman keras inilah yang merupakan faktor utama terbangunnya ketidaknyamanan dan kekeringan hidup dalam masyarakat. Hal ini sangat masuk akal ketika tempat tinggal, tempat istirahat, rumah, tetangga, dan lingkungan kita terusik oleh perbuatan-perbuatan seorang atau lebih pemabuk, yang pada kenyataan dalam masyarakat kita menjadi alat pembenar untuk berbuat keonaran, pemeresan, pemalakan, kekerasan, meneror kecil-kecilan, mencuri, sampai pembunuhan. Mereka (pemabuk) beralasan bahwa melakukan hal tersebut karena ketidaksadaran setelah minum minuman keras. Namun kenyataan yang terjadi adalah telah adanya niat dari mereka untuk berbuat seenaknya. Minuman keras hanya sebagai pelancar aksinya. Untuk mampu melakukan sesuatu yang tak mungkin dilakukan jika tidak minum minuman keras. Keadaan inilah yang telah memunculkan jiwa-jiwa pengecut, munafik, jiwa yang penuh kelicikan dan tidak berjiwa kesatria. Anehnya sikap-sikap seperti inilah tidak mendapat penolakan yang seharusnya dalam masyarakat kita. Malah yang terjadi adalah adanya “pemahaman pembenar” sebagai “alat pemaklum kejadian”. Yang akhirnya justru mereka ikut-ikutan berkubang dalam dunia itu, menyatu dan mencari mangsa orang lain atau masyarakat lain. Inilah pemicu kerusuhan, tawuran, dan menumbuh suburkan kader-kader militan yang pada akhirnya sangat mudah terekrut menjadi teroris sungguhan.
Terorisme yang dibungkus dengan alasan Agama, sudah terbukti sangat membahayakan. Mereka sudah tidak memilah-milah korbannya ketika niat sudah dipersiapkan. Mereka hanya tinggal menunggu waktu, tempat, kesempatan serta kelengahan. Sosok yang terlahirkan dari keputusasaan dan kesalahan asumsi atas pemahaman agama. Mereka merasa sudah tidak merasa nyaman melakukan ritual keagamaannya, yang merasa terusik dengan banyaknya jiwa-jiwa pengecut, kelicikan, kemunafikan, dan tak kesatria, sudah berada dimana-mana, hampir di semua pelosok bangsa ini. Di lain pihak si pengecut (pemabuk) merasa terusik kebebasannya melakukan perusakan diri sendiri dan lingkungannya. Jadilah mereka yang merasa dirinya suci bak malaikat (kebanyakan yang terjadi) tersingkirkan, terpinggirkan dan mengisolasi diri. Terbangunlah komunikasi internal yang eksklusif diantara mereka yang merasa terpingirkan. Di sanalah awal mula terbentukanya militansi yang tak jarang melahirkan seorang teroris sungguhan, yang siap melakukan pengrusakan di bumi ini.
Kecuali ketidaknyaman yang muncul di lingkunngan terdekat kita yang dibangun oleh seorang atau lebih pengecut, juga banyak ketidaknyaman-ketidaknyamanan yang dimunculkan oleh budaya-budaya keserakahan yang melahirkan punli-pungli, sogok-menyogok, korupsi, jiwa tak tahu diri serta tak tahu malu, gaya hidup yang tak seimbang dan penuh kebohongan-kebohongan besar. Masyarakat kita tampaknya iklas melakukan itu semua atau juga merasa diuntungkan atas kejadian tersebut. Namun pada akhirnya tidak bagi mereka yang merasa tertindas, bukan mereka yang meresa nyata-nyata diuntungkan (biasanya yang berkuasa pada kejadian itu). Ketidaknyamanan hidup yang disebabkan oleh budaya keserakahan telah memendam dendam dan amarah, bagai menyimpan api dalam sekam yang menunggu waktu dan kesempatan untuk membakar apa saja yang bisa dijadikan alasan untuk membakarnya, jadilah kebakaran besar yang tidak sedikit menimbulkan kerugiannya. Tak jarang pula nyawa melanyang tanpa arti dan salah sasaran, sungguh tragis dan memprihatinkan.
Di samping itu, budaya keserakahan juga melahirkan koruptor-koruptor baru, pelaku pungli, pemerasan terselubung, dan jiwa-jiwa munafik yang penuh dengan kebohongan-kebohongan besar. Mereka terlahirkan setelah mendapat jatah kekuasaan (pada skala rendah, pejabat/pegawai rendahan, maupun skala tinggi, pegawai/pejabat tinggi) menyalurkan dendam dan amarah sama persis dan sebangun, namun dengan orang ataupun masyarakat lain, pada waktu dan kesempatan yang berbeda. Bagai lingkaran setan yang tak berkesudahan yang terus-menerus membangun kekeringan hidup pada masyarakat kita. Bahaya dalam keadaan ini, bagai “bom yang siap meledak” dimana saja dan kapan saja menunggu seseorang yang mampu menarik pemicu. Terorisme, kerusuhan, tawuran bahkan perang sesama anak bangsa, tampaknya akan terus mengancam bangsa ini selama kekeringan hidup mereka tidak segara dibongkar dan diperbaiki.
Kedua, Kepastian Hukum yang tidak jelas sasarannya dan lemahnya budaya penolakan atas sumber masalah yang terjadi pada suatu kasus. Berbagai kasus yang terjadi dalam masyarakat kita pada kenyataannya bukannya mengarah kepada kepastian hukum yang menunutaskan, mengurangi atau mencegah masalah, namun justru malah semakin bertambahnya masalah-masalah yang sejenis. Ada yang tidak tepat dan mengena pada kepastian hukum kita. Kepastian hukum yang hanya mengatasi masalah permukaannya saja dan bukan mencegah sumber masalah yang memicu terjadinya masalah ataupun suatu kasus. Kepastian hukum yang kaku dan tidak dibarengi usaha-usaha prefentif untuk mencegah terjadinya masalah sejenis di lain waktu dan kesempatan. Di sisi lain, dengan keterbatasan aparat penegak hukum, dukungan masyarakat untuk melakukan usaha-usaha pencegahan belum terbangun sebagai budaya yang kokoh, permanen dan efektif. Sebagai contoh, misalnya, pada kasus-kasus kriminal hanya diselesaikan pada kejadian hukumnya saja, dimana si pelaku kemudian cukup diberi ganjaran hukum setimpal dengan perbuatannya. Namun pada kenyataannya tidak sedikit seorang residifis melakukannya lagi. Malah lebih memprihatinkan lagi, mereka mengajak pelaku-pelaku baru, yang tidak menutup kemungkinan setelah keluar dari penjara juga melakukan hal yamg sama denagan pendahulunya. Inilah kepastian hukum yang hampa tanpa makna.
Dukungan Masyarakat tidak kalah pentingnya dalam membangun budaya pencegahan dan penyelesaian yang berkelanjutan terhadap kasus-kasus kriminal ataupun masalah-masalah yang lainnya. Tidak sedikit masyarakat justru malah mendorong tumbuh kembangnya masalah, entah karena takut, tak mau tahu, atau yang lainnya. Kenyataannya tak sedikit pelaku-pelaku kriminal malah disegani bukan malah diberi sangsi dalam kehidupan masyarakat untuk tidak mengulangi lagi. Inilah bukti lemahnya budaya penolakan yang belum terbangun dalam masyarakat kita, apapun alasannya. Tentu saja si pelaku merasa mendapat angin pembenar atas tindakannya. Jadilah ia justru bangga, sama sekali tidak merasa bersalah ataupun mungkin tak merasa berdosa kepada pihak yang telah menjadi korbannya. Suatu bukti lemahnya budaya penolakan masyarakat terhadap berbagai masalah yang merugikan dan merusak. Di samping merugikan dan merusak diri sendiri dan masyarakat yang bersangkutan, juga telah memberi konstribusi yang tak sedikit dalam menciptakan ketidaknyaman hidup orang dan masyarakat lainnya. Inilah kekeringan hidup masyarakat yang telah merasuk dan terbangun dari semua segi kehidupan yang penuh permasalahan.
Ketiga, Keterpurukan ekonomi juga telah menambah beban tersendiri. Beban yang juga memunculkan berbagai masalah. Berbagai masalah yang juga mengambil bagian mendorong semakin kuatnya kekeringan hidup masyarakat, semakin menumpuk dan menggunung, siap meletus mencari saat dan tempat penyaluran yang memungkinkan. Masalah ketenakerjaan, kemiskinan, dan keputusasaan hidup menyebabkan mereka melakukan apa saja untuk mempertahankan hidup atau mencari ketenagan hidup (yang salah sebagai pelariannya). Keputusasaan untuk melakukan pencurian, pemerasan, perampokan, dan berbagai tindak kejahatan yang terdorong akibat keputusasaan mereka. Pelarian hidup dengan minum-minuman keras, obat-obat terlarang, narkoba dan lain sebagainya, yang juga pada akhirnya, menambah daftar kriminalitas lainnya. Semakin lengkaplah sudah ketidaknyamanan masyarakat bermunculan di mana-mana, di semua segi kehidupan, dan di setiap detik perjalanan waktu untuk menjadi korban kekeringan hidup tersebut
Happy Planet Index
Ada satu hal yang yang patut diamati, ada suatu kesimpulan yang dapat ditarik, mengenai ciri khas Bangsa Indonesia, paling tidak sepintas yang kami amati ketika bergaul dengan beragam budaya dan bangsa.
Ketika dibandingkan dengan kumpulan bangsa-bangsa yang lain, kumpulan orang2 Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Murah Senyum
2. Hobby Tertawa
3. Hobby Guyonan
4. Tidak kehabisan stok bahan tertawaan. (maaf mungkin yang satu ini berlebihan)
Bahkan menurut kolega pak Hantiar dari negara di benua Afrika (kalau tidak salah) mengatakan heran kepada orang Indonesia dan mengatakan bahwa: “They (Indonesian) Are Always Happy!”
Orang indonesia selalu bahagia (senang).
Berdasar hipotesis tersebut di atas saya coba iseng-iseng saya browsing Wikipedia akhirnya ketemu link berikut http://en.wikipedia .org/wiki/ Happy_Planet_ Index Ternyata menurut wikipedia HPI atau Happy Planet Index yang diperkenalkan oleh New Economics Foudation bahwa seharusnya pembangunan manusia bukan hanya diukur dari GDP (Gross Domestic Products – Produksi Total Dalam Negeri) dan HDI (Human Development Index) yang berbasis pada kekayaan material atau Kekayaan, namun diukur dari Kebahagiaan (Happiness) dan Kesehatan (Healthiness) .
Datanya cukup menarik, ternyata orang Indonesia menempati urutan 23 dan lebih bahagia (happy) daripada:
|
NO |
Negara |
Rangking |
|
1 |
China |
31 |
|
2 |
Thailand |
32 |
|
3 |
Malaysia |
44 |
|
4 |
Timor Leste |
48 |
|
5 |
Papua New Guenea |
76 |
|
6 |
Jerman |
82 |
|
7 |
Saudi Arabia |
89 |
|
8 |
India |
90 |
|
9 |
Brunei Darussalam |
100 |
|
10 |
UK (Inggris) |
108 |
|
11 |
Israel |
117 |
|
12 |
Singapore |
131 |
|
13 |
US (Amerika) |
150 |
Wow, dari satu link lagi saya dapatkan http://worlddatabas eofhappiness. eur.nl/hap_ nat/nat_fp. Php di jabarkan, suatu saat Tanadi Santoso juga pernah menyampaikan hal yang sama di sebuah radio, swasta (oops hampir sebut nama radionya). Tanadi menyampaikan bahwa orang Indonesia masih lebih Happy dari pada orang Singapura yang Income per Kapitanya lebih tinggi dari Indonesia.
Hal ini menarik untuk kita perhatikan bahwa ini adalah Asset bangsa yang sangat berharga. Asset ini harus kita komunikasikan bagi bangsa sendiri untuk membangun optimisme, mendorong agar bekerja lebih cerdas dan lebih keras lagi, menjadikan bangsa ini lebih besar.
Asset ini sangat berguna untuk membangun kepercayaan diri dan patut untuk dibanggakan. Sebab selama ini yang kita dengar sehari-hari bahkan menjadi slogan-slogan yang mensugesti seperti: Dasar orang Indonesia, Ndeso, Katro, Korup, dll. Ini kurang menguntungkan. Asset ini bisa kita pilih sebagai Branding bangsa sebagai contoh:
Welcome to Smiling Country
Heheheheh, ngomongin Indonesia, sama dengan membicarakan seorang perempuan. Tak ada habisnya.
Are You Unhappy? Come to Indonesia.
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

The Journey of Hendra 



