Menakar Gaya Pemimpin di Sekitarmu

Ada banyak buku literatur tebal yang mengupas tentang kepemimpinan/leadership. Pada kesempatan kali ini saya mau menyinggung salah satu seni memimpin, yang sepertinya tidak banyak dikupas dalam buku-buku literatur tebal tersebut, yaitu menebak suasana hati. Kepemimpinan adalah seni mengelola orang bukan barang. Makhluk bernyawa yang berperasaan. Ini bukan tentang kuisioner kepegawaian. Bukan pula laporan kinerja pegawai dari departemen HRD. Ini murni tentang interaksi Anda dengan karyawan Anda secara langsung. Bukan juga tentang suasana rapat formal yang kaku. Ini adalah tentang interaksi langsung Anda dengan karyawan Anda. Sangat konvensional memang. Tapi ketahuilah bahwa resep ini sangat manjur.

Misalkan anda adalah seorang bos, coordinator, manager atau istilah apapun yang artinya ‘BOS” , jika selama Anda berinteraksi langsung dengan mereka, usahakan menebak suasana hati mereka. Tebakan Anda tidak selalu harus tepat. Namun lakukan terus dan ulang lagi. Yang namanya menebak berarti bukan menanyakan langsung, misalnya dengan pertanyaan “Apakah kamu sedang bahagia ?” Anda mungkin bisa berbincang dengan mereka tentang masalah pekerjaan atau bahkan masalah keseharian yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Mempertahankan air muka dan bahasa tubuh mereka sewaktu bekerja. Amati saja. Bersihkan hati Anda dari prasangka. Ikuti irama tautan hati ini. Ikuti saja. Nanti Anda akan dengan sedirinya bisa menebak suasana hati mereka. Dengan ini, lambat laun Anda akan bisa mengenali kepribadian karyawan Anda. Jika sudah sangat terbiasa (saya tidak menyebutnya sebagai sangat ahli), dalam sekali pertemuan dengan seseorang, Anda langsung bisa melihat ‘warnanya’. Orang ahli menyebutnya dengan ilmu titik.Bagaimana kalau karyawan Anda sangat banyak ? tentu tidak menjadi masalah, Anda bisa mengacaknya.

 

Saya tidak menyebutkan bahwa Anda harus berkorespondensi satu-satu dengan mereka semua. Seberapa banyak dan seberap intensif pertemuan tersebut, kata hati Anda yang akan menjawabnya.Dengan paparan di atas dan Anda laksanakan dengan baik, sepertinya banyak masalah bisnis Anda terutama yang berhubungan dengan ketenagakerjaan akan tidak terlalu sulit menemui penyelesaian.

 

 


Bagaimana jika Bos yang belum siap jadi Bos?


Ini beda lagi masalahnya. Seorang teman saya pernah bercerita kepada saya, bahwa atasanya itu suka “ nggak mudeng” alias nggak nyambung alias nggak respon. Bayangkan, e-mail penting yang dia kirimkan udah seminggu, nggak dibalas dan nggak preña dibicarakan kembali. Masalahnya apakah dia membukae-mail setiap harui atau memang nggak mudeng kalau komunikasi itu pentingHmmm, kalau ini kasusnya repot ya, kebayang saya aja yang memikirkanya suka iku-ikutan repot sendiri (nggak penting banget ah).padahal menurut ahli Management HRD, Leadership is the ability to influence a group toward the achievement of goals (Stephen P.Robbins). padahal, Komitmen akan muncul dari pengikut jika pemimpin memberikan exchange positif (rewards).

 

 


Bagaimana mau dapat reward, kalau pemimpinya aja demikian.???. biasanya pemimpin tipe ini nih, suka menyalahkan anak buahnya, ketika posisinya terancam dan susah.


Pada dasarnya, setiap manusia memiliki jiwa sebagai pemimpin sejak lahir, namun perkembangan lingkungan dan kedewasaan dalam bersosialisasi dapat mempengaruhinya, apakah dapat berkembang atau bahkan hilang sama sekali. Dalam kaitannya dengan hal ini, sebelum kita mengklasifikasikan gaya kepemimpinan seperti pada judul diatas, maka saya akan mengulas sedikit mengenai faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kepemimpinan / leadership.Dalam suatu kelompok dalam masyarakat, seperti organisasi konvensional / modern, perusahaan atau instansi maka sudah pasti ada seseorang yang bertindak sebagai pemimpin, misalnya dalam organisasi politik ada Ketua Umum, dalam organisasi perusahaan ada Administrator / manajer, dalam sebuah kelas ada Ketua Kelas, pada Universitas ada Rektor dan lain sebagainya. Dengan adanya pemimpin, sudah pasti pula ada pengikutnya, akan tetapi, pengikut tidak sama dengan bawahan atau anak buah.

Misalnya dalam sebuah partai politik tidak dapat dikatakan sebagai anak buah atau bawahan, akan tetapi lebih tepat kalau disebut pengikut, simpatisan atau kader, dikatakan demikian karena pengikut umumnya dengan sendirinya telah memberikan kepercayaan penuh kepada sang Ketua Umum atas ideologi dan tindakannya.

Pada sebuah struktur organisasi formal, misalnya suatu perusahaan, lazim disebut karyawan / pegawai / bawahan / anak buah, dan disini, anak buah mau atau tidak mau, suka atau tidak suka harus tunduk dengan sang administrator / manajer dan hubungan antaranya biasanya hanya sebatas pekerjaan. Namun dalam suatu perusahaan juga dimungkinkan terdapat kepengikutan seperti halnya pada partai politik yang dapat diukur dari tingkat loyalitas anak buah kepada atasannya. Dan hal ini bergantung apakah administrator / manajer / pimpinan yang bersangkutan memiliki sifat kepemimpinan atau tidak.

Menurut Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A, dalam Psikologi Manajemen dan Administrasi (1989 : 169), kepengikutan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1.Kepengikutan Berdasarkan Naluri

 

 


Dalam klasifikasi ini, terjadinya kepengikutan pada sejumlah orang disebabkan timbulnya dorongan untuk menaruh kepercayaan kepada seseorang, sehingga mereka bersedia untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang dikehendaki orang yang memperoleh kepercayaan itu. Orang yang menerima kepercayaan itu diakui sebagai pemimpin karena dianggapnya mampu melindungi kepentingan atau mewujudkan aspirasi orang-orang yang menaruh kepercayaan tadi.Kepemimpinan dan kepengikutan jenis ini dinamakan kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership).


2.Kepengikutan Berdasarkan Tradisi


Kepengikutan ini timbul disebabkan adanya kebiasaan secara turun menurun. Kepengikutan jenis ini terdapat baik dalam masyarakat skala besar seperti negara, maupun dalam skala kecil seperti desa. Dalam kepengikutan jenis ini, orang-orang yang menjadi pengikutnya tidak melakukan penilaian terhadap benar salahnya atau baik buruknya kebijakan yang dijalankan pemimpin.3.Kepengikutan Berdasarkan Agama

 

 


Para pengikut berdasarkan agama acapkali bersifat fanatik, berani mati, karena matinya itu demi Tuhan penguasa dunia akhirat. Khalayak yang menjadi pengikut pimpinannya berdasarkan agama menganggap bahwa pimpinannya itu adalah orang yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya, karena sebagai tokoh agama ia selain menguasai ketentuan-ketentuan agama mengenai apa yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, ia sendiri yang pertama-tama akan mematuhinya.


4.Kepengikutan Berdasarkan Rasio


Kepengikutan ini dapat dijumpai di kalangan orang-orang terpelajar dalam suatu masyarakat. Mereka mengakui seseorang sebagai pimpinannya berdasarkan pertimbangan rasional, berlandaskan penalaran (reasoning).Biasanya, khalayak yang secara rasional mengakui seseorang sebagai pemimpinnya karena orang itu berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Oleh karena itu, khalayak menganggap bahwa prilaku sang pemimpin itu didasari pemikiran yang matang dengan menyadari akibat prilakunya itu, serta mengetahui pula tindakan apa yang dijadikan antisipasi jika kegiatannya itu keliru.


5. Kepengikutan Berdasarkan PeraturanKepengikutan berdasarkan peraturan terdapat pada masyarakat modern, dimana orang-orang mengelompokkan diri untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan kepentingan yang sama secara bersama-sama.
Dari 5 (lima) klasifikasi kepengikutan diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kepengikutan itu bisa timbul dengan sendirinya tanpa adanya persuasi (kharismatik) atau juga bisa muncul dengan adanya paksaan.


Diantara para pemimpin kharismatis di dunia, Nabi Muhammad SAW dinilai sebagai pemimpin kharismatis yang tidak ada tandingannya. Dalam bukunya yang berjudul “Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah”, Michael H. Hart, yang diterjemahkan oleh H. Mahbub Djunaedi, mencantumkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu.

 

Hart beralasan bahwa : “Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.


Berasal usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya tetap kuat dan mendalam serta berakar.”


Setelah kita memahami klasifikasi kepengikutan seperti yang saya kutip dari pendapatnya Pak Onong, mari kita bahas mengenai yang namanya Gaya Kepemimpinan. Gaya Kepemimpinan sejatinya ada 3 (tiga) bentuk, yaitu:


1.Otoriter (Authoritarian Leadership)


Seperti yang kita ketahui, bahwa kekuasaan otoriter gaya kepemimpinan berdasarkan pada kekuasaan yang mutlak dan penuh. Dengan kata lain, sang pemimpin yang dalam kepemimpinan ini disebut juga sebagai diktator, bertindak mengarahkan pikiran, perasaan dan prilaku orang lain kepada suatu tujuan yang telah ditetapkannya. Artinya segala ketentuan dan keputusan berada di tangan si pemimpin. David Krech, Richard S. Crutchfield, Egerton L. Ballachey, menggambarkan mengenai kepemimpinan ini: bahwa dalam suatu kelompok yang sangat kecil, antara pemimpin dan pengikut terjadi kontak pribadi karena komunikasi berlangsung secara interpersonal, namun ketika kelompok menjadi besar, maka hubungan antara pemimpin menjadi semakin jauh dan melalui peringkat peringkat. Organisasi hirarkis pada kelompok otoriter dapat dikaji sebagai konsekwensi dari tujuan si pemimpin untuk senantiasa memelihara posisinya sebagai kekuasaan sentral. Dan menurut David Krech, Richard S. Crutchfield, Egerton L. Ballachey, Suasana seperti ini kondusif untuk frustasi dan agresi serta meningkatnya ketegangan dan konflik intra kelompok.2.Demokratis (Democratic Leadership)

 

 


Yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya atau cara memimpin yang demokratis, dan bukan karena dipilihnya si pemimpin secara demokratis. Gaya yang demokratis seperti ini misalnya saja si pemimpin memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada para bawahan dan pengikutnya untuk mengemukakan pendapatnya, saran dan kritikkannya dan selalu berpegang pada nilai-nilai demokrasi pada umumnya.


3.Kepemimpinan Bebas (Laisez Faire Leadership)


Dalam kepemimpinan jenis ini, sang pemimpin biasanya menunjukkan suatu gaya dan prilaku yang pasif dan juga seringkali menghindari dirinya dari tanggung jawab. Dalam prakteknya, Si pemimpin hanya menyerahkan dan menyediakan instrumen dan sumber-sumber yang diperlukan oleh anak buahnya untuk melaksanakan suatu pekerjaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan pimpinan. Pimpinan yang memiliki gaya ini memang berada diantara anak buahnya, akan tetapi ia tidak memberikan motivasi, pengarahan dan petunjuk, dan segala pekerjaan diserahkan kepada anak buahnya. Itulah ketiga bentuk gaya kepemimpinan. Termasuk yang manakah gaya kepemimpinan Anda?Ternyata berat ya jadi pemimpin itu, apalagi kalau orang yang udah lama sekali memimpin grup, kantor, program, komunitas, yang selama dia memipin tidak pernah tau kalau dia nggak bisa memimpin dan nggak bisa menyatukan anak buah atau staf nya.

 

Capeeee deh..

Artikel

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Leave Comment

(required)

(required)