Mencintaimu sekujur tubuh, Adinda
Entah kenapa, pasca pindah dari Surabaya, aku ngerasa jauh Banget sekarang. Padahal Cuma di Aceh. Mengenai jarak dan waktu Aku tak pernah mau menghitungnya, karena aku juga tidak mau mengingat hitungan hari, bulan dan tahun untuk mengingatkan ku betapa lamanya kita tak bertemu.
Sepanjang waktu, kucoba mengingat kembali semua yang pernah terjadi. Betapa banyak hal kecil yang pernah terjadi diantara kita. Candaan, berantem kecil puncaknya adalah ciuman dariku, sentuhan darimu, pelukan rindu anak-anak. Entahlah. Cinta…? Ya, hal kecil itu bernama cinta. Dan memang itu alasan kita bukan?…..
Cinta sudah memberi kita energi yang begitu menggelora, dan dahsyat. Porak-poranda hati kita kemudian diterjangnya. Ada saat-saat dimana kita diguyur dengan rasa gembira dan rindu dendam yang memekarkan hati. Ada juga saat ketika kita diterkam rasa cemas, gelisah juga cemburu dan nafsu. Sementara itu ada pula ketika belati-belatinya menyayat tipis-tipis serat-serat paling halus perasaan kita. Kamu tahu? Ternyata aku justru bersyukur sempat mengalaminya, menangis karena rindu atau kecewa, terharu karena kebaikan dan rasa sayang yang tulus, gembira karena punya cinta yang bikin aku mabuk terhuyung-huyung. Entahlah, meski dengan campuran rasa cemas dan rasa bersalah, toh aku terus saja nekat mendekapnya. Dan itu karena kamu…….
Aku tak pernah menyesalkan apa yang pernah aku alami denganmu dan mengenangkannya seperti saat ini, aku tidak perduli. Aku ingin belajar memahami, bahwa kadang tusukan duri-duri cinta dengan cara seperti itu, menyakitkan, sekaligus bikin rindu ingin mengalaminya lagi. Eksperimenku yang lain tentang perasaan seperti itu? Aku tidak tahu, karena aku tak berpikir apapun ketika mengalaminya. Kita toh sudah tahu apa yang mestinya terjadi. Terkadang dengan naifnya masih saja aku bisikkan ajakan dan angan-angan yang tinggi tentang kita. Dan pagar norma dan logika rasional kita, tak menggubrisnya. Kadang-kadang Tuhan dengan jenaka dan bijaknya mengirim isyarat-isyarat yang sedikit saja kita pahami. Kita cuma menerka-nerka dan berharap bahwa kesabaran akan menuntun kita ke arah pengertian yang lebih dalam tentang semua yang terjadi.
Aku melihat bintang-bintang di langit malam yang kelam, mecoba mengingat kembali bagaimana bentuk wajahmu, harum napasmu, hangat pelukan iklasmu, dan wangi parfummu yang begitu dekat dengan indra penciumanku. Ah….ingin cepat kembali saat bersama. Semuanya pernah begitu mendebarkan bagiku. (Aku rasa bukan semacam rindu yang telah basi,
. Barangkali titrasi pada senyawa senyum dan bau parfummu.
Pernah aku mencoba untuk melupakan, agar tak cengeng ketika jauh, tentang semua hal yang pernah terjadi. Namun kamu bilang, “jangan pernah mencoba melupakan. Hal itu akan membuat mu semakin tersiksa, jalani kehidupan ini apa adanya, karena kita tak punya kuasa untuk itu”. Entah bagaimana aku harus berbuat dengan nasehat seperti ini.
Berkali-kali kukatakan kepadamu bahwa kamu Cuma satu, dan hanya satu-satunya. Sulit bagiku untuk mencari yang sepadan denganmu dalam hal perasan dan hati. Entahlah….sampai kapan semua perasaan ini akan berlangsung. I will remember what u said, don’t ever try to forget. Cause it’ll make u feel more painfull.
Waktu itu sering yang terpikir dariku adalah “carpe diem”, “seize the day”, “raihlah hari ini”. Barangkali sedikit sekuler, karena seolah hanya mendewakan hiruk pikuk sesaat. Tapi coba kita pahami dengan cara lain, bahwa hidup mengajarkan kita sesuatu dengan mengalaminya. Makin tinggi kita mendaki keindahannya, maka resiko kita terguling ke jurang nista makin besar dan menakutkan pula. Tapi karenanya kita belajar dan menjadi dewasa. Mungkin ada pernah kusampaikan padamu, bahwa kedewasaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia kita. Dan aku bukanlah orang yang sudah dewasa. Aku selalu mengagumi orang-orang yang telah mengalami begitu banyak hal, hingga hatinya makin terbuka dan lembut, lebih bijak atas segala hal yang tak selalu jelas.
Mungkin seperti dirimu saat ini? Waktu menjadi lapisan tipis saja, jika sengkarut semua warna kita ingin kita raup. Sungguh pada saat seperti itu, aku mungkin akan menjadi rakus, karena semua begitu berharga, untuk hidup yang singkat ini.
Begitu banyak rasa terimakasihku padamu, atas semuanya. Rasanya tak pernah cukup apapun yang kulakukan untuk membalas semua yang pernah kita lalui. Ketika kamu ijinkan aku menyusup sejenak diantara kelopak-kelopak bunga hatimu. Dan kamu biarkan aku nikmati pendar-pendar warnanya.
Kamu tahu? Semua tampak indah dan bercahaya bagiku. Seperti butiran permata dan wangi-wangian dari surga, ketika aku lekat denganmu. Harapan… ah harapan, tentu saja ada.
Tak lupa pula aku meminta maaf yang sebesar-besarnya atas semua kebodohanku atas mu. Seperti yang aku tuliskan diatas, aku bukan orang yang sudah dewasa, yang mampu memahami segala hal dengan bijak. Pada puisi aku belajar mengeja makna, pada kata aku belajar menangkap dunia tanda. Ternyata, mencari struktur sempurna dari cahaya keindahan kalimat adalah menenggelamkan diri sepenuhnya pada seluruh peristiwa hidup kita.
Teriring doa untukmu disetiap doaku. Namamu tak pernah lupa terselip di setiap doa ku. Smoga kita bisa lebih dewasa dan bijak dalam menjalani kehidupan ini. Smoga kamu berbahagia dalam menjalani hari-hari mu. Semoga karunia Allah senantiasa menyertai senyummu.
Untuk Ayang cepat kelar spesialisnya ya, I love you
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

The Journey of Hendra 




Kata-kata yang manis penuh makna dan jujur.
Membacanya menambah kesadaran akan eksistensi cinta istri yang selalu ada dan siap kapan, dimana dan bagaimanapun kita.