Kepada ” Tiga Puluh Dua” Yang Menyala
Siang tadi, saya mendapatkan sebuah e-mail dari teman baik saya, BIMBI. Bimbi adalah salah seorang teman baik saya yang sekarang berada di London. BIMBI kini bekerja disana dan memutuskan bekerja di London, setelah menyelesaikan Master nya di Led University, dan menikah akhir tahun yang lalu.
Saya tidak tau, apa maksud dari e-mail ini. saya hanya menyadari, bahwa sebentar lagi usia saya memasuki 32 Tahun, usia yang tidak muda lagi. Yang jelas e-mail BIMBI membuat saya terkejut dan “tafakur” sepi… banyak sekali yang Allah berikan kepada saya, dan yang saya berikan pada Allah masih sangat kurang.
Baiklah, ini yang diberikan BIMBI kepada saya, judulnya pesan elektronik kepada Hendra Syahputra
Pesan Elektronik Untuk Hendra Syahputra.
Ketika malam yang tua mempunyai angin yang dingin setiapkali kita terjaga dari mimpi. Engkau dapat membaca keseluruhan malam setiapkali engkau keluar dari tidur, dari ketidaktahuan.
Ketika itu setiap orang yang terjaga akan melewati malam yang begitu sepi dan acapkali gemetar di persimpangan shubuh. Engkau tahu, beberapa jarak setiap orang menjumpai kelahiran cahaya matahari—menemui kelahiran ruang yang cerah dan terang, menemui kebaruan dan perubahan. Disana engkau mungkin lelah kehilangan sedikit istirah.
Tapi dengan begitu engkau lebih tahu di arah mana letak bintang paling banyak di langit semalam, faham suara kesunyian malam, tahu cara menghikmati hakikat kesendirian, menatap bentuk sempurna bulan dan mengerti apa artinya permenungan yang hening. Kemudian semua itu kau pelajari di setapak kelahiran esok hari. Kelak kita akan tahu nikmatnya buah pengalaman dan kebahagiaan setelah kita mampu merampungkan sejeda perjuangan dan pengorbanan. Ya, kita temui terbit fajar.
Kita nikmati sejuk angin pagi. Kita resapi kenangan-kenangan semalam yang membuat garis tajam menuju kelahiran pagi. Setelah itu, kita tahu Saudaraku, waktu berjalan seperti lingkaran. Kita temui malam dan siang lalu hidup mengajarkan kita tentang keduanya. Bukankah kita mengenal siang karena kita mengenal malam? Disanalah kita hadir dalam kelahiran dan kejatuhan, kejatuhan dan kelahiran kembali—keduanya dipergilirkan.
Namun, setiap kelahiran cukup mengerti tentang rasa nyeri, Saudaraku. Ibumu melahirkanmu dengan rasa nyeri dan kebenaran pun lahir dari rasa yang sama. Kelahiran butuh pengorbanan—semacam pengertian, waktu, kerja keras, pikiran, harta, rasa tabah, semacam keras kepala dan beberapa hela napas sekedar menahan pedihnya. Kemerdekaan sebuah bangsa dari belenggu kolonialisme, tentu juga mengerti apa artinya nyeri sebuah kelahiran. Putra bangsa yang mencintai prestasi dan cita-citanya harus melewati pula rasa nyeri sebuah kerja keras untuk mewujudkannya.
Seorang pecinta yang ingin menempuhi kebersamaan perjalanan cinta bersama sang kekasih memang harus mengerti apa artinya rasa nyeri ketika jalan menemuinya berulangkali menikung. Siapa yang menikmati agama hari ini adalah orang yang mesti menghormati perih luka dan keras kepala perjuangan para nabi melahirkan pesan Tuhan. Begitupun impian tentang kelahiran masyarakat yang beradab.
Kelahiran dapat berarti siap menerima perubahan, mempercayai sebuah pembaharuan. Perjuangan juga berari berkorban siap memenuhi impian tentang perubahan.
Lantas kenapa kita butuh perubahan? Tahun 610 Masehi di jazirah Arab, pertanyaan itu menghinggapi diri Muhammad bin Abdullah. Ia mengerti makna nyeri sebuah kelahiran dan impian sebuah perubahan. Beberapa tahun sebelum menerima pesan Islam (tepatnya tahun 570 M), ia lahir tanpa saksi seorang ayah, disebuah pemukiman paling penting di tanah gurun yang meraih keberhasilan dalam bidang perdagangan sejak tahun-tahun terakhir abad ke-6. Muhammad menerima wahyu Jibril yang membawa kabar tentang Tuhan Monoteis di usia 40. Pesan Tuhan yang pertama kali ia terima di sebuah pegunungan di luar kota Makkah akhirnya kelak terhimpun dalam sebuah kitab suci bernama Qur’an: bacaan. Beberapa abad kemudian, antologi firman dalam kitab tersebut melahirkan Islam sebagai gagasan cantik bagi peradaban umat manusia di seluruh dunia.
Namun, kita tahu, Islam sebagai gagasan masih belum selesai. Sejarah mencatat bahwa Islam berulangkali harus menerima seribu jatuh melakukan proses perjuangan untuk—meminjam istilah Quraisy Shihab—“membumikan al-Qur’an” di bumi ini dengan utuh dan bermakna.
Zaman terus berjalan; lajunya kadang lebih cepat dari dugaan dan kesiapan kita untuk melangkah dan berpikir. Berabad-abad setelah Islam memulai kelahirannya, kita kini tiba-tiba sampai pada sebuah persoalan: umat Islam acapkali tak pandai memaknai sebuah kelahiran dan tak bercermin padanya. Konon, setelah Nabi wafat dan pergantian khalifah berkali-kali dilakukan, Islam punya catatan sejarah yang cukup mengerti bagaimana memaknai kelahiran Islam.
Dari abad ke-8 sampai abad ke-12 M, umat Islam memiliki gairah prestasi peradaban dan kebudayaan yang maju; ilmu pengetahuan tak lelah dicari dan al-Qur`an tak jemu mereka pelajari. Kejayaan Islam ketika itu membuat gentar dunia. Ini bukan sekedar romantisisme, Saudaraku, tetapi pelajaran berharga.
Dari sana kita telah belajar begitu berharganya ilmu pengetahuan. Orang-orang Muslim dulu memang amat semangat mencari dan mencintai ilmu. Orang-orang Muslim dahulu memang bergairah berijtihad dalam berbagai bidang, baik bidang fiqih, teologi, filsafat.
Mereka sadar bahwa kunci dinamika Islam adalah ijtihad, bukan kejumudan berpikir. Mereka juga memang demikian akrab dengan al-Qur’an dan hadis nabi yang sebenarnya mendorong umat untuk melakukan penelitian ilmiah dan mengobservasi kejadian-kejadian di alam untuk dijadikan iktibar bagi orang-orang yang berakal. Tak hanya itu, para khalifah saat itu memang sangat mendukung kegiatan ilmiah, baik fasilitas maupun dana. Berbagai buku filsafat dan ilmu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab; lembaga-lembaga pendidikan didirikan. Mereka pun tak lelah mengadakan kontak dengan peradaban Yunani, Romawi, Persia, India dan peradaban Cina. Dalam setiap kontak itu, Saudaraku, mereka menyaring konsep-konsep dan nilai-nilai dari sana. Kontak dengan peradaban lain memang melahirkan keuntungan yang besar bagi peradaban Islam. Kemajuan Islam pun lahir. Disana, lahirlah juga para ilmuwan Muslim yang banyak memberikan sumbangan hebat bagi kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam.
Kita memang harus belajar pada para matematikawan Muslim Omar Khayyam, Nashir Al-Din Thusi dan lain-lain. Mereka ketika telah memberikan sumbangsih yang berharga pada geometri. Kita memang harus belajar pada semangat Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika dan astronomi muslim dari Baghdad yang termashyur di abad ke-9 M. ketika itu, ia meletakkan gagasannya dalam karya Al- Mukhtashar fi hisab Al- jabar wa Al-Muqabalah (Ringkasan perhitungan restorasi dan ekuasi). Tak lupa juga Ibn Al-Haytsam yang mempelopori studi tentang gerak. Kelak semangat itu tertangkap seorang Galileo, ahli fisika dan astronomi Italia yang mencetuskan revolusi ilmiah. Tak hanya itu, Al- Haystam juga mempelopori ilmu optika dan kemudian iapun mendapat julukan Bapak Optika.
Dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin Kitab Al-Manazhir (Buku Optika), Al-Haytsam menempatkan gagasan cemerlang yang kelak menjadi inspirasi dan dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa.
Belajarlah, Saudaraku, belajarlah pada semangat Ali Ibnu Isa yang bekerja keras melahirkan gagasan lewat karyanya Tadzkirah Al-kahalin (buku Pedoman bagi Ahli Optalmologi). Beliau adalah orang pertama yang menyarankan pembiusan atau anastesia dalam pembedahan. Kita juga ingat seorang Muslim yang mendapat julukan prince of physicians,
Pangerannya para Dokter. Ia adalah Abu Ali Ibnu Sina yang kelak karya tulisnya, Al-Qanun fi Al-Thibb (Pedoman Pokok Kedokteran) misalnya, menjadi referensi standar untuk kedokteran di Negara-negara Islam di Eropa. Kita boleh bangga pada Einstein si jago fisika Jerman, tetapi Islam punya Ibnu Sina yang ahli menganalisis konsep-konsep fisika. Kita juga punya Al-Jabir ahli kimia dan metalurgi dari Arabia. Dalam bidang yang sama, kita patut bangga pada Ar-Razi sebagai orang pertama yang memperoleh alkohol dari hasil fermentasi untuk keperluan medis. Kita punya ilmuwan-ilmuwan Muslim lainnya di masa lalu. Di bidang lain, kita kenal pemikir Muslim Ibn Rusyd, Syuhrawardi, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, Mulla Shadra, Syah Waliyullah, filosof Ibn Farabi dan lainnya. Kita mesti belajar pada gagasan, semangat dan kerja keras mereka mencintai ilmu pengetahuan, mencintai perubahan..
Tapi kita tahu, Saudaraku, ilmuwan-ilmuwan Muslim dan pemikir-pemikir Muslim itu kini telah wafat. Sejauh ini, rahim Islam belum melahirkan Ibnu Sina Baru, Al-Jabir baru, Omar Kayyam baru, Al-Khawarizmi baru, Ibn Rusyd baru, Mulla Shadra baru dan ilmuwan-ilmuwan dan pemikir Muslim baru yang begitu mendalam mempelajari ilmu pengetahuan. Tetapi, akhirnya sejarah mengajarkan kita untuk tak berlebihan menyanjung kehebatan mereka. Sejarah mengajarkan pada kita tentang sekaratnya ilmu di dunia Islam hanya karena umat Islam terlena oleh kehebatan para faqih, teolog dan ilmuwan pada masa kejayaan Islam dahulu sembari mereka tak mulai memangun semangat ijtihad dan kerja keras baru.
Kelak ajaran lama mengkristal dan membekukan kreativitas umat. Kita cenderung jadi malas dan mengambil apa saja yang sudah ada tanpa berpikir kritis; cenderung mempertahankan tafsir, pendapat yang kemudian usang dan tak baik bagi konteks kekinian; cenderung mengagungkan status quo yang jumud. Kita lebih suka melahap kitab suci mentah-mentah, tak suka kerja-keras mengolah akal, takut berpikir. Umat tak lagi senang merayakan kelahiran tafsir, pemikiran atau gagasan-gagasan ilmu pengetahuan yang lebih baru. Tak heran jika akhirnya umat Islam banyak ketingggalan dalam berbagai bidang. Akibatnya, kita masih berkubang dalam paradigma jahiliyyah, terperangkap dalam mental barbar, kerasan dalam kejatuhan dan kegelapan—seolah-olah itu kebenaran, celakanya.
Kita melulu mempercayai ketakaburan, kelengahan, kekufuran dan keserakahan sebagai nafas hidup. Tetapi al-Qur’an memberikan nasihat yang mesti kita renungkan bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka mengubah keadaannya sendiri.” (Q.S. AL-Ra’d [13]:11). Sungguh ironis, Saudaraku, umat Islam yang memiliki gagasan dan kitab suci yang kaya ilmu mesti terpuruk seperti sekarang ini. Bukankah itu memberi kita pelajaran bahwa selama ini umat Islam tak pandai membaca ayat-ayat yang berserak dalam kitab suci (qauliyah), alam semesta (kauniyah) dan di dalam kepalanya sendiri?
Ya, mereka malas berpikir. Padahal Tuhan telah menganjurkan manusia berkali-kali dalam al-Qur’an untuk membaca ayat-ayat-Nya dan berpikir; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir.” (Q.S. Al-Imran:190) Sayang, umat Islam kini cenderung malas merenungkan tanda-tanda itu. Kita memang dekat dengan al-Qur’an, tetapi cenderung tidak akrab dengan tanda-tanda dan maknanya; kita tak pandai menggali ilmunya. Padahal al-Qur’an adalah petunjuk (bayyinat).
Namun, Saudaraku, kini terimalah kejatuhan ini sebagai sebuah pelajaran untuk berjalan ke depan dengan bekal hikmah. Mari kita merayakan kelahiran-kelahiran baru dalam diri kita, semacam gagasan, ilmu dan karya dalam bentuk apapun. Sekecil apapun karya kita tentu akan sangat berharga dan berpahala. Memang perih dan lama prosesnya, tetapi kelak berbuahkan sesuatu yang terbaik. Kesadaran bahwa hidup ini sarat rintangan dan cobaan merupakan ilmu yang membuat kita tak lengah. Ilmu taqwa menjadi modal berharga bagi kita untuk menghayati dan mengamalkan dari apapun yang kita baca dalam dinamika kehidupan ini. Kinilah saatnya kita menatap hari esok, membuang keraguan dan membenahi diri ini. Kinilah saatnya kita memulai tanggung jawab agung sebagai khalifahtullah.
Walhasil, nikmati proses, optimalkan gerak dan bekerja keraslah. Seperti laiknya Muhammad yang menerima wahyu pertama, kitapun menerima cahayanya—cahaya yang akan mendidik kita melafalkan iqra! Bacalah ayat-ayat Tuhan, bacalah semesta, bacalah diri kita atas nama Tuhanmu (bismi rabbik).
Kinilah saatnya kita bangun dari kejatuhan seperti Muhammad yang bangun dari mimpi peradaban jahiliyyah dan ia tetap terjaga dari tidur kesadaran, meski kita tahu, ia mendapatkan kendala yang tak mudah.
Lalu kenapa Muhammad sudi (ngeh) menerima pengorbanan-pengorbanan dan seribu luka perjuangan dalam dakwahnya? Sebab ia mencari kelahiran. Sebab ia ingin perubahan. Sebab ia memaknai kegelisahan…bukankah karya-karya berulangkali lahir setiapkali kegelisahan hadir dan dipelajari? Dan bukankah karya adalah bentuk nyata gagasan manusia yang terbaik? Lantas, sudah siapkah kita gelisah? Sudah siapkah kita membuat kelahiran-kelahiran baru untuk memaknai hidup ini? Sudah siapkah kita berkarya? []
Catatan :
Terimakasih BIMBI, terimakasih atas semua kebaikan yang engkau berikan masa-masa “susah” dulu.sukses terus dan jaga diri di negeri orang. Salam untuk anak dan istrimu ya..
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

The Journey of Hendra 



