Kejujuran Itu Mahal

Kejujuran seseorang, Diukur dari perbuatannya, Bukan profesinya. (Junius). Kejujuran adalah sesuatu yang langka dalam kehidupan sekarang ini, karena oleh sebagian orang kejujuran dianggap sebuah kebodohan yang akan menghambat kemajuan dan kesuksesan.

Lihatlah pejabat dan politikus yang jujur tidak akan cepat kaya dan masih segar dalam ingatan kita tentang banyaknya mantan pejabat yang kena kasus korupsi demikian juga dengan para politisi kita, Guru yang jujur tidak akan bisa hidup dalam kecukupan ekonomi, bukan maksud kami untuk menyinggung perasaan Bapak Ibu Guru kita yang sangat kita hormati tapi kalau kita boleh jujur bukankah demikian adanya, karyawan dan buruh yang jujur akan selalu menjadi sasaran eksploitasi pengusaha ( pemilik Modal) karena dianggap lahan empuk bagi pengusaha untuk menangguk keuntungan yang besar.

Pebisnis dan pedagang yang jujur tidak akan dapat mengeruk untung sebanyak-banyaknya dan sudah menjadi rahasia umum dalam dunia perdagangan harus tega untuk menipu orang, meskipun hanya dilakukan oknum kecil dari pedagang, bahkan sebagian orang mengatakan “ yang jujur akan hancur ?” .

Tapi apakah memang demikian realitanya ?

Tidak! Bagaimanapun kejujuran harus kita pertahankan dalam hidup kita, karena kejujuran akan selalu mendatangkan ketenangan hati dan jiwa.

Kejujuran adalah sesuatu yang indah, karena ia akan selalu membawa berkah dalam hidup meskipun tidak berlimpah apa yang kita terima, lebih dari itu kejujuran akan mendapatkan balasan yang mulia dari Sang Pencipta kelak bagi Orang-orang yang punya Keyakinan.

Boleh jadi kejujuran memang sulit di praktekkan di Zaman seperti ini, Dimana segala sesuatunya diukur dengan materi yang hanya untuk memenuhi syahwat keduniawian, Tapi bukan berarti kejujuran tidak bisa kita lakukan dalam mengarungi hidup.

Karenanya seorang yang mampu bersikap jujur, niscaya ia akan mendapat apresiasi tinggi dari Sang Pencipta bukankah ini lebih penting untuk kita, meski di hadapan manusia terkadang dikucilkan karena dianggap sok suci, moralis dan lain-lain , marilah kita mulai untuk jujur dalam segala hal yang mulai menjadi barang langka di negeri ini minimal jujur kepada diri kita sendiri.

Mahalnya Kejujuran

 

Saya jadi teringat AGUS Condro Prayitno, tumbal kejujuran. Ya, apa boleh buat, keputusan PDI Perjuangan menarik kadernya itu dari DPR, jelas menunjukkan betapa mahal ongkos untuk berkata jujur. Publik dengan mudah melihat rencana Penggantian Antar Waktu (PAW) anggota Fraksi PDIP DPR itu, sebagai sanksi atas keberaniannya membongkar sebuah kejahatan politik.

Baiklah, cerita ini hanya sederhana, tapi cukup jadi peringatan keras buat semua. Agus mengaku ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menerima Rp 500 juta, pada 2002, sebagai imbalan atas terpilihnya Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia. Politisi asal Batang, Jawa Tengah, itu juga menyebut nama sejumlah rekan se-fraksinya ikut menikmati uang suap tersebut.

Tetapi, kita tahu, semua kompak berkilah tidak pernah menerima seperti
‘nyanyian’ Agus selama ini. Agus malah dianggap berilusi, dan menjadi bagian dari sebuah konspirasi untuk merusak partai politik yang dipimpin mantan presiden Megawati Soekarnoputri itu. Kebetulan Mbak Mega kembali dijagokan oleh partai berlambang kepala banteng bermoncong putih itu dalam Pilpres 2009.

Dalam rapat DPP PDIP, , diputuskanlah rencana PAW untuk Agus. Ia dianggap telah merusak citra partai. Pengakuannya telah menerima ‘uang panas’ setengah miliar rupiah dari Miranda, merusak image parpol. Meski sudah menyerahkan uang tersebut ke KPK, bagi PDIP dosa Agus, tidak termaafkan.

Dan, alhasil, palu godam partai dijatuhkan; Agus Condro Prayitno ditarik dari keanggotaan dewan. Segala tetek-bengek urusan administrasi PAW Agus sudah diserahkan ke DPR, KPU. dan selanjutnya ke Presiden. Dan dalam rentang waktu sebulan ke depan, tidak akan ada lagi anggota DPR bernama Agus Condro Prayitno.

Boleh saja PDIP berkilah Agus dicopot karena merusak citra partai. Tetapi, sekali lagi, apa boleh buat, logika publik berkata; Agus dicopot karena telah membongkar sebuah kebobrokan partai, dan boleh jadi, sistem politik di Tanah Air.

Tetapi, publik memiliki logikanya sendiri, yang bisa jadi, sangat liar. Seawam-awamnya, atau setolol-tololnya masyarakat, sangat tidak mungkin seorang Agus Condro berani mengungkapkan ‘Kasus Miranda’, tanpa fakta, dan data. Agus pasti sangat paham, jika ‘nyanyiannya’ sampai ke publik, akan sangat banyak pihak yang bakal dihadapinya, baik ia berkata benar, apalagi kalau hanya membawa ‘pepesan kosong’.

Kalau saja PDIP lebih cerdik, momentum pengakuan Agus bisa menjadi titik balik untuk menaikkan posisi, sebagai partai yang bersih, dan pada gilirannya lebih berwibawa, dan dicintai rakyat. PDIP bisa mengambilalih keadaan, dengan mengadakan penyelidikan internal. Dari situ siapa pun yang bersalah, karena menerima uang suap Miranda, harus mendapat sanksi tegas; recall dari DPR, dan pecat dari PDIP, selain melaporkannya ke KPK.

Ya, kecuali kalau secara institusi Fraksi PDIP DPR, atau PDIP secara kelembagaan, juga ikut terlibat dalam permainan kotor tersebut. Jangan harap akan ada tindakan pembersihan, demi menampilkan sosok partai politik yang bersih, berwibawa, dan dicintai rakyat.

Pihak dewan, lewat Badan Kehormatan DPR, juga bisa mengambil momentum pengakuan Agus tersebut untuk menaikkan citranya, yang sudah babak belur dihantam kasus korupsi, asusila, dan sebagainya. BK DPR harus bertindak cepat, merangkul Agus, melindunginya, dan menjadikan pengakuannya sebagai titik balik untuk membersihkan DPR.

Logika awam yang bisa jadi sangat liar itu, dengan mudah mengamini, selain Fraksi PDIP DPR, seperti diakui Agus Condro, pasti fraksi lain juga terlibat. Dengan suara 41 dari 50 anggota Komisi IX DPR (1999-2004) yang dikantongi Miranda untuk menduduki kursi empuk Deputi Senior Gubernur BI, pasti ada sumbangan dari fraksi di luar PDIP. Karena, kita tahu, PDIP hanya memiliki 18 suara di komisi itu. Lalu, dari mana 23 suara lainnya, kalau tidak dari fraksi lain?

KPK juga harus bertindak lebih cepat. Benar, pengakuan Agus belumlah cukup sebagai alat bukti hukum, tetapi tentu lebih dari cukup untuk segera memulai penyelidikan yang komprehensif. Kecepatan bertindak KPK diperlukan, untuk menghapus logika awam yang sangat liar itu bahwa KPK masih tebang pilih dalam menghunus pedang keadilannya.

Kepada Agus Condro Prayitno, jangan kapok berkata jujur, jangan takut berbuat baik. Di luar DPR, di luar partai politik, pasti akan sangat banyak tempat untuk Anda. Jadi, teruslah bertindak, dan berperilaku yang baik, dan jujur, suara hati, dan logika publik yang sangat liar itu, pasti akan selalu di pihak Anda.

….pagi ini di surat kabar pagi yang saya baca, juga diramaikan berita tak sedap, banyak orang menggelapkan uang program kemanusiaan, dengan dalih yang tidak bisa diterima. Naudzubillahi Mindzalik. Semoga dijauhkan Allah dari kami…

 

Artikel

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Leave Comment

(required)

(required)