Catatan Pertemuan
Kataku pada nya. kebenaran bisa dari mana pun juga, dari agama, dari filsafat
dari ilmu pengetahuan atau apa pun namanya .Terimalah kebenaran itu tanpa prasangka, kebenaran kadang datang sebutir demi sebutir seperti bijih emas yang barbaur dengan pasir sungai. Gunakanlah kebijaksanaanmu untuk menyaringnya.
Ku awali kalimat penggalan itu, ketika mulai mengenal nya, mungkin bisa lebih kurang kusebut Paradoks (Refleksi kenekatan seorang ”aku’)
Apakah artinya paradoks ? begitu katanya.
Menurut kamus Webster, paradoks berarti suatu pernyataan yang kelihatannya kontradiktif, sulit untuk dipercaya, kelihatannya mengada-ada, tetapi bisa jadi benar dalam kejadian sehari-hari. Definisi ini pulalah yang diadopsi oleh Charles Handy dalam bukunya “The Age of Paradox” yang diterbitkan oleh Harvard Business School Press pada tahun 1994. Charles Handy mengamati ternyata banyak sekali kejadian-kejadian di dunia ini, termasuk di dunia bisnis, bersifat paradoks.
Bergerak dari tulisan itu, aku mulai menjelajahi dunia nya. Sulit -sulit gampang memahami filsapat hidup orang sibuk, namun nggak sulit kalau kita rajin baca tentang dia, kataku menghayal entah kemana. Minimal akan dapat 90 dari 100 % yang terus diburu
Menjalani hari hari yang menyenangkan, selama hampir jalan Delapan Tahun, merupakan keasyikan baru bagi seorang yang luar biasa bagiku.
Kehidupan yang jauh dari publikasi membuat aku susah menyentuhnya secara teknologi, namun bukan berarti aku diam saja. Berbaga jurus dan cara aku lakukan, sampai akhirnya 85% sudah dia mengenal aku (menurut aku sih), yang jelas, dia mulai tertawa lepas, suka bercanda, sense of humor nya yang aku tebak emang tinggi, akhirnya keluar juga. Yup, aku emang senang kalau bisa membuat dia bahagia. Pasti karena konsep bahagia di benaku adalah, ketika semua pembicaraan berakhir dengan happy ending…upssssssss…tapi itu menurut aku.
Kenyataannya setelah lama ngobrol dengan dia, aku menemukan kebahagiaan yang lain. KEBAHAGIAAN BATIN. Saling mengasihi.menghargai, mendukung kesuksesan masing masing, dan nggak lupa, proses belajar sesuatu hal baru terus aku lakukan. Memahami judulnya
Semula berawal dengan sulit, bahkan teramat sulit. Namun dalam hati aku bergumam keras. Dia harus mampu aku sentuh. Bukan ‘aku’, namanya, kalau nggak bisa jadi sang juara. He…he….hee… meski nggak pernah mendapat penghargaan dari lembaga kayak karya ilmiah Indonesia (LIPI-red) atau yang lainnya, khayalku terus memuncak, suatu saat paling jelek aku dapat penghargaan dari adik, sahabat, guru dan seorang kekasih yang cerdas berfikir, tapi bukan untuk karya ilmiah atau analisisku terhadap budaya atau lingkuingan sosial.
Namun karya nyataku mendapatkannya..hanya kapan dan mampukah aku dapar ”Cinta Award”, untuk katagori yang paling sering nelpon, yang paling nekat nelpon, paling suka iseng, paling suka ngganggu kerjaan dan yang paling demen di manja………….ntah deh, kayaknya aku pengen dapat award, PALING MENDUKUNG DAN MEMAHAMI…sepertinya itu yang aku suka, agar posisiku tambah enak…wuihhhhh (pasti deh dia tertawa membacanya….)
7 tahun kenal bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal seseorang, perjuangan panjang melelahkan mengalahkan ketakutan dan emosi adalah rintangan awal yang harus cepat cepat aku singkirkan. Rasa takut bukan bahagian dari diriku lagi, entah kenapa sejak memencet mobile number miliknya dan tembakan hati yang nekat 17 Agustus 1996, hampir 12 tahun yang lalu semua seperti terselesaikan. Batu espun mencair, aku berhasil menambatkan dan membuat kembali rasa takut bukan bahagian dari diriku. Rasa takut itu udah lama hilang. kini aku menyandang gelar ”berani menyapa duluan” itu.
PARADOK, mungkin diawalnya ia. Banyak hal yang bisa dipakai dalam konsep Charles Handy, namun aku juga nggak pake sumua konsep laki laki gaek yang juga mbah management menurut ku
Charles Handy mencontohkan sebuah paradoks di dalam produktivitas kerja. Produktivitas berarti hasil kerja yang memuaskan dari sekelompok kecil orang (better work from fewer people). Semakin sedikit orang yang mengerjakannya, dan jika mutu kerjanya sama atau meningkat, maka produktivitas dikatakan meningkat. Untuk apa produktivitas ditingkatkan ?
Ternyata untuk menyenangkan pelanggan dan pertumbuhan perusahaan itu sendiri. Di mana letak paradoksnya ? Ternyata semakin tinggi produktivitas, semakin tidak menyenangkan bagi karyawan, karena ada karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja. Produktivitas yang tadinya diyakini mampu memperbaiki perusahaan, ternyata tidak begitu kejadiannya untuk karyawan. Di sinilah letak paradoksnya menurut Charles Handy.
Charles Handy mengungkapkan setidaknya ada sembilan paradoks yang ada di atas dunia ini. Saya tidak akan menguraikan satu per satu paradoks tersebut di sini, karena pada intinya adalah, ada suatu pertentangan antara yang diharapkan dengan apa yang terjadi.
Salah satu contoh lainnya yang menarik adalah paradoks waktu (the paradox of time). Mengapa orang bekerja ? Supaya mendapatkan penghasilan dan dapat pergi berlibur atau bersenang-senang dengan uangnya tadi. Untuk mendapatkan uang semakin banyak, maka dia bekerja semakin keras. Sayangnya, Tuhan menyediakan waktu hanya 24 jam sehari. Apa jadinya ? Ternyata semakin keras dia bekerja, semakin banyak dia mendapatkan uang, tetapi akhirnya dia tidak punya waktu untuk bersenang-senang. Paradoks bukan ?
Ini dipertegas dengan paradoks pekerjaan (the paradox of work), di mana menurut Charles Handy, some people have work and money but too little leisure time, while others have only leisure time but no work and little money. Setujukah Anda ?
(aku jawab setuju untuk bahagian tertentu, tapi nggak untuk masalah hati..ceileeeee)
Aku mulai memkombinasikan paradok itu agak nggak kaku. Kalau menurut Charles emang demikian, namun dari kekuatan komunikasi itu bisa cair..bayangkan kalau ternyata padaok hati nggak pernah dibahas, artinya mungkin dan bisa jadi itu nggak ada. Percaya atau tidak, ini ceritanya
Mulanya aku menganggap yang kulalui ini adalah paradok yang luar biasa, gimana nggak aku belum pernah jalan dan makan atau sekedar menemani dia minum kopi di cafee tongkronganya. Tapi itu dia, aku dan dia sepakat menjalani ini bak air menelusuri semua liku liku sungai yang indah dan menawan. Paradok mungkin bisa jadi yang tidak sesuai dengan harapan dan kenyataan.
Tapi kepercayaan diri membuat aku mengerti bahwa paradok akan diganti dengan LOYAL…. Loyal dengan waktunya, loyal dengan kegiatanya, loyal dengan kesibukannya. Tentu saja loyal dan memahami semua seluk beluk yang terjadi dan ia alami. Ketika rasa`sakitnya menjadi bahagian dari rasa sakitku, aku merasakan paradok udah mulai berganti dengan Loyal..oh..semoga ia juga demikian
Kini,a ku mulai menjalani hari hari itu dengan penuh arti. Aku berharap setiap detik dan jam adalah perbaikan
Kini, aku mulai suka mengkritik banyak dirinya, pekerjaanya dan tugas-tugasnya, yang menurutku emang udah harus dibuat bagus banget, mengingat kegiatan dia padat dan padat buanget…jadinya ya musti ekstra butuh waktu yang ekstra juga, tapi pasti bisa lah. Karena kufikir mencoba bukan lagi sebuah bagian dari persoalan tapi penyelesaian, bukan begitu honey?
Mengenal dia, dan membaca memorinya waktu sekolah di zaman ‘ingusan’ dulu. Udah kebaca suatu hal, suatu hal itu aku simpulkan dalam sebuah sajak mengerti, ala aku sendiri; begini bunyinya
Melawan arus perubahan
Menahan tiupan angin
Melawan derasnya sungai
Menahan hantaman gelombang
Buah yang dipetik setelah bertahun berjuang
Menegakkan kembali kedigjayaan diri
Bukan pemilik kuasa kehidupan
Bukan pemilik kuasa kegelapan
Hanya penikmat kuasa cinta
Menuai mimpi-mimpi yang tertunda
Merealisasi janji-janji kehidupan
Sedikit pergerakan merubah seluruh pergolakan
Sekedar menyatakan jiwa progresivitas revolusioner ketika mahasiswa
Segala daya upaya dikerahkan agar penindasan dihentikan
Seluruh jiwa, pikiran dan hati diserahkan agar manusia sadar
Kini,mulai memetik hasilnya
Cerita yang berbau keberhasilan sudah mulai dibuka. Lembaran baru kehidupan mulai dikuaknya. Catatan di akhir tulisan ini, aku melihat aura keberhasilan dan kesuksesan didirimu
Selamat melanjutkan pekerjaan, melakukan aktivitas dan seminar seminar serta meeting meeting penting; do’aku untuk kesuksesan prestasi dan karir serta kehidupanmu.
(Untuk Istriku tercinta, dari relung hatiku, mengingat 17 Agustus 1996, mengenang Aceh- Medan-Jakarta, Surabaya, Malang dan Yogya, mengingat 17 Agustus 2001, mengukir 14 Maret 2002). Menemanimu membesarkan buah cinta kita Gebryna Fairuzzanty Pandinny juga Muhammad Caesar Zia Bawana)
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

The Journey of Hendra 



