Mengahiri Sebuah Fragmen

BANYAK yang mengatakan bahwa dunia ini panggung sandiwara. Barangkali ada benarnya, meski tidak sepenuhnya. Sebab dalam hidup ini banyak kamuflase dan kebohongan. Persis dalam sebuah panggung sandiwara. Tapi, anehnya, banyak yang suka dengan aneka macam tipuan itu.

Pertanyaannya, mengapa sebagian besar kita suka dengan ‘’sandiwara”? Barangkali salah satu penyebabnya, karena bangsa ini punya alat ukur sangat unik. Misalnya, alat ukur untuk melihat kesuksesan seseorang dipandang dari berapa jumlah mobil yang dimilikinya, rumahnya di kawasan mana, merek bajunya apa, bahkan –mungkin– termasuk berapa jumlah istrinya (hiks)

Karena alat ukur yang demikian itu, ketika seseorang menjalin hubungan dengan orang lain, maka orang lain itu disuguhi dengan penampilan yang dilengkapi aksesori mobil mengilat, baju bermerek, dan sebagainya. Meski sebenarnya semua itu hasil pinjaman atau bahkan Celakanya, cara seperti ini justru membuat lawan hubungan menjadi yakin dan percaya sepenuhnya.

Penyebab lain lagi, karena kita suka pada formalitas, suka pada kulit dan melupakan isi. Contoh, dalam praktek kenegaraan, kita lebih banyak berbicara mencari legalitas –meskipun substansi nilai kebenarannya sangat semu. Peraturan dibuat tidak untuk mengatur yang berdampak pada kemaslahatan masyarakat luas, melainkan condong untuk tujuan sempit, membenarkan perbuatan, atau untuk memenangkan suatu golongan

Dengan demikian, suatu perbuatan angkara yang hina lagi nista menjadi dibenarkan oleh hukum. Barangkali ini terjadi karena penafsiran secara tidak tepat dari ungkapan Jurgen Habermas yang menyatakan bahwa .Tapi, saya yakin, filsuf asal Jerman itu tidak memaksudkan demikian, sebagaimana ditafsirkan.

Contoh yang dapat disebut dalam masalah ini, antara lain, soal tender proyek. Peraturan dibuat ketat dan seolah adil dan fair. Misalnya, tender harus dibuka untuk umum dan boleh diikuti perusahan-perusahaan apa saja yang memenuhi syarat. Tapi, apa yang terjadi? Yang menang dia lagi dan dia lagi, meskipun proses tender diikuti puluhan perusahaan. Cuma, yang ikut itu perusahaan sewaan alias bohong-bohongan.

Yang demikian itu terjadi karena kita lebih suka pada formalitas dan kurang menimbang isi. Orang tidak bicara lagi faktor berikut adalah karena kita terjerembap dalam definisi-definisi dan paradigma yang tidak jelas alat ukurnya. Dalam bahasa ilmiahnya, kita terjebak pada definisi atau paradigma yang tidak berdasarkan epistemologi. Contoh yang mudah disebut di sini adalah soal identifikasi “jujur” dan “kaya”.

Jujur itu identik dengan miskin, baju kumal, rumah bocor, mobil yang sering ngadat atau sepeda reyot, dan anak-anak yang sakit-sakitan dan tidak mampu dibayari SPP sekolahnya. Sedangkan kaya identik dengan perbuatan-perbuatan seperti korupsi, kolusi, dan manipulasi. Jadi, orang takut kelihatan kaya. Makin kumuh makin bersih.

Sebenarnya semua tahu bahwa paradigma ataupun definisi yang tidak berlandaskan epistemologi yang benar tadi mendorong orang menjadi munafik yang penuh kepura-puraan. Tentu tidak semuanya, tapi sebagian besar. Contoh, lihatlah laporan kekayaan pejabat negara. Mudah-mudahan semua yang dilaporkan jujur.

Tapi, karena definisi dan paradigma yang salah tadi, tidak tertutup kemungkinan seorang pejabat cenderung tidak melaporkan semua kekayaannya. Sebab, kalau dilaporkan seluruhnya, takut dikatakan sebagai pejabat yang tidak jujur, pejabat korup, dan sebagainya.

Atau, seorang pejabat akan melaporkan daftar kekayaannya menjadi 10 kali lipat dari kekayaan yang sebenarnya. Tujuannya, agar di akhir masa jabatan nanti menjadi klop dengan apa yang dilaporkan. Percayalah, ini semua terjadi. Tetapi semua EGP, emang gue pikirin

Melihat ini semua, sebenarnya saya menjadi ketawa. Tetapi sebenarnya saya juga menangis. Itulah fakta, di mana semua bersandiwara!

Yang menjadi pertanyaan sekarang, kapan kita menjadi rasional? Ataukah rasionalitas kita adalah ketidakrasionalan itu sendiri? Kebenaran menjadi maya adanya, seperti asap yang tebal sejenak, bergulung-gulung kemudian lenyap, tanpa tangisan yang mengiringinya.

Sebenarnya, genderang reformasi yang ditabuh beberapa tahun silam dimaksudkan untuk menata Indonesia agar kembali pada semangat awal cita-cita kemerdekaan. Yakni negara merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Celakanya, reformasi kita justru seperti masuk dalam kotak pandora. Akhirnya reformasi berputar-putar dan tidak mampu keluar guna menemukan pintu hakiki yang menjadi tujuan reformasi itu sendiri. Karenanya, tidak aneh apabila ada yang mengatakan bahwa reformasi telah mati suri.

Lalu, di manakah kini para cendekia sejati, ke mana para ahli pikir, dan ke mana pula para datuk negeri ini? Ternyata mereka semua terperangkap dalam gua-gua dingin diselimuti salju tebal hingga menjadi beku. Hanya mata-mata mereka yang terbuka, tetapi itu pun tidak dapat melihat apa-apa.Fakta ini tidak boleh ditangisi, apalagi diratapi. Mari kita bangkit, dan buanglah jauh-jauh baju kepura-puraan. Sandiwara telah usai!

Catatan: Kepada Sahabat, Adik, Kakak, Guru yang aku banggakan. Trims untuk Cintanya

Artikel

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Leave Comment

(required)

(required)